Inilah 14 Kesalahan yang Sering Dilakukan di Bulan Ramadhan. Nomor 8 Paling Sering Dilakukan
Inilah 14 Kesalahan yang Sering Dilakukan di Bulan Ramadhan. Nomor 8 Paling Sering Dilakukan
Dalam setahun, ada satu bulan yang kedatangannya selalu kita nantikan, ia yaitu bulan Ramadhan. Alhamdulillah, bulan yang sangat kita rindukan itu sekarang telah tiba. Pada bulan ini Yang Mahakuasa mencurahkan kebaikanNya untuk segenap hamba-hambaNya yang beriman. Di bulan Ramadhan, kedermawanan Nabi SAW lebih deras dari hembusan angin.
Para Sahabat dan As-Salafus Shalih terdahulu selalu berlomba-lomba menumpuk kebaikan dan amal ibadah di dalamnya. Namun ketika ini, kondisi umat Islam sungguh memilukan, dominan mereka tak saja lemah untuk diajak ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) di bulan penuh kemuliaan ini, tapi mereka selalu saja hampir sepanjang tahun tak siap dengan amalan-amalan yang semestinya mereka lakukan secara benar.
Bulan Ramadhan yaitu bulan penuh berkah, animo aneka macam macam ibadah menyerupai puasa, shalat, membaca Al-Qur'an, bersede-kah, berbuat baik, dzikir, do'a, istighfar, memohon Surga, berlindung dari masuk Neraka serta macam-macam ibadah dan amal kebajikan lainnya.
Orang yang beruntung yaitu yang menjaga setiap detik waktunya, baik di siang atau malam hari untuk aneka macam amal perbuatan yang menjadikannya berbahagia serta lebih akrab kepada Allah, sesuai dengan yang diperintahkan, tanpa menambah atau mengurangi. Karena itu, setiap muslim wajib berguru wacana hukum-hukum puasa.
Sayangnya, tak sedikit orang yang melalaikan persoalan ini, sehingga banyak terjerumus pada kesalahan-kesalahan. Di antara kesalahan-kesalahan yang jamak (umum) dilakukan orang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah:
1.Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.
Padahal Yang Mahakuasa SWT berfirman yang artinya: "Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan, jikalau kau tidak mengetahui." ( An-Nahl: 43).
Dan Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, pasti ia dipahamkan dalam urusan agamanya." ( Muttafaq Alaih).
2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main.
Padahal yang seharusnya yaitu menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah, lantaran masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Yang Mahakuasa serta melaksanakan muhasabatun nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum tiba hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.
3. Ta'at hanya di bulan Ramadhan.
Sebagian orang, bila tiba bulan Ramadhan mereka bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi jikalau bulan Ramadhan telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melaksanakan aneka macam perbuatan maksiat. Alangkah celaka golongan orang menyerupai ini, alasannya mereka tidak mengetahui Yang Mahakuasa kecuali di bulan Ramadhan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Tuhan bulan-bulan pada sepanjang tahun yaitu Satu jua? Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Yang Mahakuasa mengetahui perbuatan mereka di setiap ketika dan tempat?
Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Yang Mahakuasa dengan taubat nashuha (sebenar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta meratapi apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan berpengaruh untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Dengan demikian insya Yang Mahakuasa taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka diampuni.
4. Beranggapan keliru.
Sebagian orang beranggapan bulan Ramadhan yaitu kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari, serta untuk begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, dominan mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah, berhura-hura, bermain yang sia-sia (seperti main kartu dsb.), menggunjing, memecah-belah dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.
Sesungguhnya hari-hari bulan Ramadhan merupakan saksi ta'atnya orang-orang yang ta'at dan saksi maksiatnya orang-orang yang jago maksiat dan lupa diri.
5.Bersedih dengan datangnya bulan Ramadhan.
Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jikalau bulan Ramadhan berlalu. Sebab mereka beranggapan bulan Ramadhan akan menghalangi mereka melaksanakan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain daripada bulan Ramadhan. Padahal ia yaitu bulan penuh barakah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari Neraka bagi setiap muslim yang melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.
6. Begadang untuk sesuatu yang tidak terpuji.
Banyak orang yang begadang pada malam-malam Ramadhan dengan melaksanakan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka gres pulang dan pribadi sahur kemudian tidur. Karena kelelahan, mereka tidak sanggup berdiri untuk shalat Shubuh berjamaah pada waktunya.
Ada banyak kesalahan dan kerugian dari perbuatan semacam ini:
Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi SAW membenci tidur sebelum Isya' dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi berkata, hadits ini hasan).
Sia-sianya waktu mereka yang sangat berharga. Mereka sama sekali tidak memanfaat-kannya sedikitpun. Padahal masing-masing orang akan meratapi setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Yang Mahakuasa di dalamnya.
Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan. Padahal Rasulullah SAW menganjurkan sahur pada final malam sebelum terbit fajar.
Musibah terbesar mereka yaitu tidak sanggup menunaikan shalat Shubuh berjamaah tepat pada waktunya. Betapa tidak, alasannya pahala shalat Shubuh berjamaah menyamai shalat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: "Barangsiapa shalat Isya' berjamaah maka seperti ia shalat separuh malam dan barangsiapa shalat Shubuh berjamaah maka seperti ia shalat sepanjang (satu) malam." (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu).
Orang yang meninggalkan shalat Shubuh secara berjamaah tersebut berkarakter sebagaimana orang-orang munafik, mereka tidak melaksanakan shalat kecuali dalam keadaan malas, mengakhirkan waktunya dan tidak berjamaah. Mereka mengharam-kan dirinya dari mendapat keutamaan serta pahala yang besar.
7. Hanya menjaga hal-hal lahiriah.
Banyak orang yang menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah menyerupai makan, minum dan bers3ngg4ma dengan isteri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara mak-nawiyah menyerupai menggunjing, tabrak domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalanan, di toko, di pasar dan sebagainya.
Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapat kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang shalat, tetapi ia tidak mendapat kecuali begadang dan letih saja. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Yang Mahakuasa tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum."(HR. Al Bukhari).
8. Meninggalkan shalat tarawih.
Padahal telah dijanjikan bagi orang yang menjalankannya -karena akidah dan mengharap pahala dari Allah- ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan tanggapan yang besar ini.
Ironinya, banyak umat Islam yang meninggal-kan shalat tarawih. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar kemudian tidak melanjutkannya sampai selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah final bulan. Alasan mereka, shalat tarawih hanyalah sunnah belaka.
Benar, tetapi ia yaitu sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin dan para Tabi'in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia yaitu salah satu bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dan salah satu alasannya bagi ampunan dan kecintaan Yang Mahakuasa kepada hambaNya. Orang yang meninggalkannya berarti tidak mendapat episode daripadanya sama sekali. Kita berlindung kepada Yang Mahakuasa dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melaksanakan shalat tarawih itu bertepatan dengan turunnyaLailatul Qadar, sehingga ia mendapat keberuntungan dengan ampunan dan pahala yang amat besar.
9. Puasa tetapi tidak shalat.
Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat. Sebab shalat yaitu tiang dan pilar utama agama Islam.
10.Bepergian semoga punya alasan berbuka.
Sebagian orang melaksanakan perjalanan ke luar negeri pada bulan Ramadhan untuk tujuan yang baik, tetapi semoga sanggup berbuka puasa dengan alasan musafir.
Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Yang Mahakuasa muslihat orang-orang yang suka menipu. Sebagian besar orang yang melaksanakan hal tersebut yaitu para tukang mabuk dan minum-minuman keras. Mudah-mudahan Yang Mahakuasa menjauhkan kita dari yang demikian.
11.Berbuka dengan sesuatu yang haram.
Seperti minuman yang memabukkan, rokok dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do'anya dikabulkan.
12.Tergesa-gesa dalam shalat.
Sebagian imam-imam masjid dalam shalat tarawih amat tergesa-gesa dalam shalatnya. Mereka melaksanakan gerakan-gerakan dalam shalatnya dengan amat cepat, sehingga menghilangkan maksud shalat itu sendiri. Mereka dengan cepat membaca ayat-ayat suci Al- Qur'an, padahal semestinya ia membaca secara tartil. Mereka tidak thuma'ninah (tenang) ketika ruku', sujud, berdiri dari ruku' dan ketika duduk antara dua sujud, ini yaitu tidak boleh dan shalat menjadi tidak tepat karenanya.
Seyogyanya setiap imam thuma'ninah ketika berdiri, duduk, ruku', sujud, berdiri dari ruku' dan ketika duduk antara dua sujud.
Rasulullah SAW bersabda kepada orang yang tidak thuma'ninah dalam shalatnya, artinya: "Kembalilah, kemudian shalatlah lantaran sesungguh-nya engkau belum shalat." (Muttafaq Alaih).
Dan seburuk-buruk pencuri yaitu orang yang mencuri shalatnya. Yakni ia tidak menyempurnakan ruku', sujud dan bacaan dalam shalatnya.
Shalat yaitu timbangan, barangsiapa menyempurnakan timbangannya maka akan disempurnakan untuknya. Sebaliknya, barangsiapa curang maka Neraka Wail-lah bagi orang-orang yang curang.
13. Mendahului imam.
Banyak didapati para makmum mendahului imam dalam shalat tarawih dan shalat-shalat lainnya, baik dalam memulai gerakan ketika ruku', sujud, berdiri atau duduk. Ini yaitu muslihat setan dan salah satu bentuk peremehan terhadap persoalan shalat.
Ada empat kondisi antara makmum dengan imamnya dalam shalat jama'ah. Satu daripadanya dianjurkan dan tiga kondisi lainnya dilarang. Tiga kondisi yang dihentikan itu yaitu makmum mendahului imam, menyelisihi (terlambat daripada)nya dan menyamai (berbarengan dengan)nya. Adapun satu kondisi yang dianjurkan bagi makmum yaitu mengikuti imam. Dalam shalatnya, para makmum dianjurkan pribadi mengikuti pekerjaan-pekerjaan shalat imamnya. Jadi, makmum tidak boleh mendahului gerakan-gerakan imam, juga tidak boleh membarengi atau terlambat daripadanya.
Orang yang mendahului gerakan imam, shalatnya yaitu batal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Yang Mahakuasa mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai?" (Muttafaq Alaih).
Hal ini disebabkan oleh shalatnya yang buruk sehingga ia tidak mendapat pahala daripadanya. Seandainya dia dianggap telah shalat tentu ia diperlukan mendapat pahala. Dan tak diragukan lagi, pengubahan Yang Mahakuasa kepalanya menjadi kepala keledai yaitu salah satu bentuk siksaanNya.
14. Makmum membaca mushaf.
Sebagian makmum ada yang membawa mushaf Al-Qur'an ketika shalat tarawih, mereka mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf Al-Qur'an. Pekerjaan ini yaitu tidak disyari'atkan dan juga tidak didapatkan dalam amalan para salaf. Ia tidak boleh dilakukan kecuali bagi orang yang ingin membetulkan imam jikalau salah.
Yang diperintahkan kepada makmum yaitu mendengarkan bacaan imam dengan diam. Hal ini berdasarkan firman Allah, artinya: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan damai semoga kau mendapat rahmat."( Al A'raf: 204).
Imam Ahmad berkata: "Banyak orang setuju bahwa ayat ini maksudnya yaitu ketika dalam keadaan shalat". Lalu, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin juga telah mengingatkan dalam"At- Tanbiihat 'Alal Mukhaalafati Fis Shalah", ia berkata: "Sesungguhnya pekerjaan ini (makmum membaca mushaf Al-Qur'an ketika shalat) menimbulkan makmum tidak khusyu' dan tadabbur dalam shalatnya, lantaran itu ia termasuk pekerjaan sia-sia."
Demikianlah sobat wacana 14 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pada Bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat, jazakallah.