Kekeliruan dan Kesalahan Dalam Menyambut Ramadhan yang Jarang Diketahui Orang


Tidak terasa sebentar lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh Rahmat, Berkah dan Kemulian. Sebagai umat Muslim kita niscaya bergembira menyambut bulan Ramadhan. Namun, ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan jangan hingga melaksanakan beberapa perbuatan yang tidak boleh dalam Agama dan bertentangan dengan meyambut bulan Ramadhan.

Berikut ini beberapa kekeliruan dan kesalahan dalam menyambut ramadhan yang jarang diketahui orang :

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan
Tidaklah sempurna keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan yaitu waktu utama untuk menziarahi kubur orang bau tanah atau kerabat yang dikenal dengan “nyadran”. Kita boleh setiap ketika melaksanakan ziarah kubur semoga hati kita semakin lembut alasannya mengingat kematian; dan untuk mendoakan mereka sewaktu-waktu.Namun masalahnya yaitu kalau seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu menyerupai menjelang Ramadhan dan meyakini bahwa waktu tersebut yaitu waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan alasannya tidak ada dasar dari aliran Islam yang mengajarkan hal ini.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya seputar duduk kasus ini: "Apakah ziarah kubur pada hari-hari raya halal atau haram?"

Beliau menjawab: Hal itu tidak mengapa. Kapan saja boleh. Tetapi mengkhususkannya pada hari raya tidak benar. Yakni apabila mempercayai bahwa ziarah pada hari raya lebih utama atau semacamnya. Adapun apabila pengkhususan dikarenakan waktu yang luang, maka tidak mengapa alasannya ziarah tidak ada waktu yang khusus. Boleh berziarah di malam hari atau siangnya. Pada hari-hari raya atau selainnya. Tidak ada ketentuannya. Tidak ada waktu yang khusus, alasannya Rasulullah SAW bersabda: "(ziarahilah kuburan, alasannya itu sanggup mengingatkan kepada kalian akhirat)," dan ia tidak memilih waktunya. Maka setiap muslim sanggup menziarahinya di setiap waktu. Di malam hari dan siangnya. Pada hari-hari raya dan lainnya. Namun tidak mengkhususkan hari tertentu dengan maksud bahwa hari itu lebih utama dari lainnya. Adapun kalau mengkhususkannya alasannya tidak ada waktu selain itu maka tidak mengapa.
2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan
Tidaklah sempurna amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan menyerupai ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya dengan ikhtilath campur baur pria dan wanita dalam satu daerah pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar alasannya tidak mengindahkan hukum Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat disambut dengan perbuatan yang sanggup mendatangkan marah Allah?!

3. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga tidak boleh untuk berpuasa alasannya hari tersebut yaitu hari yang meragukan. Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

4. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin…”
Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazkan niat semacam ini. Jika hal itu dilakukan secara berjamaah dengan dipimpin oleh seseorang alasannya tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat bahwasanya yaitu dalam hati dan bukan dilisan. Imam Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat yaitu dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan tanpa ada perselisihan di antara para ulama.” (Rauwdhatuth Thalibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

5. Berbelanja Besar-besaran Menjelang Ramadhan
Kebiasaan ini sering dilakukan kaum ummahat (ibu-ibu). Padahal bahwasanya hal ini malah bertentangan dengan satu maksud dan tujuan puasa yaitu supaya kita prihatin dan ikut mencicipi penderitaan kaum fakir miskin. Bukan justru memindahkan waktu makan atau malah menambah porsi makan kita dari di luar Ramadhan. Apalagi hal menyerupai sanggup menjadikan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kalau kita bercermin pada para ulama salaf, di mana untuk menyambut Ramadhan mereka lebih mempersiapkan fisik dan mental dengan melaksanakan pemanasan ibadah di bulan Sya’ban, barangkali untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan.

Jika kita melihat kebiasaan Rasulullah SAW di bulan Sya’ban sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu Anha bahwa ia banyak berpuasa dibulan tersebut.

Begitu juga para salaf dahulu sudah mulai memperbanyak bacaan Al-Qur’an semenjak bulan Sya’ban.

Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu kami menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur’an. “
Amru bin Qois ketika masuk bulan Sya’ban ia menutup tokonya dan menyibukkan dengan membaca Al-Qur’an”.

Diriwayatkan juga dari Imam Malik bahwa ia ketika dibulan Ramadhan mengurangi acara dakwah dan memperbanyak ibadah dan khalwat dengan RaBbnya. Inilah cara para salaf dahulu menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini.

6. Menyambut Ramadhan Membakar Petasan
Ini terang tidak boleh dalam Islam. Karena itu termasuk perbuatan menghamburkan harta untuk hal yang tidak berguna. Padahal setiap rupiah yang kita belanjakan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Ta’alaa. Selain itu, mengkremasi dan membunyikan petasan juga sanggup menganggu orang lain yang pastinya juga diharamkan apalagi ketika bulan Ramadhan ketika kebanyakan insan tengah khusyuk dalam beribadah.


Disadur dan diringkas dari goresan pena Ust. Abu Raidah, "Kekeliruan Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan."