Perihnya Azab Bagi yang Berlaku Zalim di Dunia dan di Akhirat


Perihnya Azab Bagi yang Berlaku Zalim di Dunia dan di Akhirat  

Ketika membahas wacana ‘Kedzaliman ialah kegelapan pada hari kiamat’ pada edisi yang lalu, kita telah menyinggung defenisi kedzaliman, bentuk-bentuk perbuatan dzalim dan cara membersihkan jiwa dari berbuat dzalim. Untuk lebih menciptakan kita “lari” dari berbuat dzalim, ada baiknya kita mengetahui apa gerangan eksekusi dan akhir yang diperoleh pelaku kedzaliman, semoga mereka yang biasa berbuat dzalim tersadarkan karenanya, wallahul musta`an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang berbuat dzalim dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat, dikarenakan perbuatan dzalim tersebut menawarkan efek yang buruk terhadap individu dan masyarakat. Kedzaliman menyebabkan kegoncangan, kegelisahan, tersebarnya kedengkian dan terputusnya hubungan cinta dan persaudaraan.

Beberapa akhir berbuat dzalim sanggup kita rinci berikut ini:

Hukuman dan akhir yang diperoleh di dunia
- Orang yang berbuat dzalim tidak beroleh keberuntungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya tidak beruntung orangorang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 135)

-Terkadang orang yang berbuat dzalim terhalang dari mendapat petunjuk/hidayah taufiq . Tuhan Subhanahu wa Ta’ala nyatakan hal ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat dzalim.” (Al-An’am: 144).

Sementara hidayah taufiq ini harus kita pinta kepada Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dan terus berulang kita mohonkan pada-Nya dalam setiap shalat, tatkala membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat:

“Berilah petunjuk pada kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)
Lalu adakah undangan ini akan diijabahi jika perbuatan dzalim senantiasa menyertai?

- Balasan kedzaliman akan diterima di dunia, sebelum nantinya akan dibalas pula di akhirat. Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada satu dosa yang paling pantas untuk Tuhan Subhanahu wa Ta’ala segerakan hukumannya di dunia disertai simpanan eksekusi yang akan diperolehnya di akhirat, selain dosa kedzaliman dan tetapkan silaturahim.” (HR. Abu Dawud no. 4902, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi`i rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain no. 1166)

- Kedzaliman merupakan lantaran datangnya tragedi alam di dunia, baik itu berupa kelaparan, wabah penyakit, banjir, gempa bumi, gunung meletus, kemiskinan, pembunuhan, tingginya harga barang, dan sebagainya. Tuhan Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang dzalim, mereka akan beroleh adzab sebelum maut mereka , akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Ath-Thur: 47)

- Meratanya adzab pada satu kampung/daerah yang penduduknya berbuat dzalim.

Apabila kedzaliman telah tersebar di tengah masyarakat dan penduduknya melaksanakan perbuatan dzalim secara terang-terangan, maka sanggup jadi Tuhan Subhanahu wa Ta’ala akan meratakan adzab kepada mereka sehingga hampir-hampir tak ada seorang pun dari mereka yang selamat, sampaipun orang shalih yang ada di masyarakat tersebut ikut terkena adzab . Sebagaimana Tuhan Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wacana apa yang diperbuat-Nya kepada penduduk negeri yang dzalim:

“Dan berapa banyak penduduk negeri yang dzalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan setelah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya.” (Al-Anbiya: 11)

Allah SWT memperingatkan:

“Dan jagalah diri-diri kalian dari fitnah (adzab/ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang dzalim di antara kalian secara khusus.” (Al-Anfal: 25)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullahu berkata dalam menafsirkan ayat di atas: “Bahkan adzab itu menimpa pelaku kedzaliman dan juga selainnya. Hal ini terjadi apabila kedzaliman dilakukan secara terang-terangan sementara tidak ada yang berusaha merubahnya, maka eksekusi yang tiba pun merata menimpa pelakunya dan selain pelakunya. Cara menjaga diri dari fitnah ini ialah dengan melarang dari perbuatan mungkar, mematahkan/menghancurkan orang-orang buruk dan yang suka menciptakan kerusakan, selain itu selama memungkinkan mereka tidak membiarkan kemaksiatan dan kedzaliman mendominasi/bisa unjuk gigi.” (Taisir Al-Karimur Rahman hal. 318)

Hukuman dan Akibat yang Diperoleh di Akhirat
Hukuman yang dipersiapkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala di darul abadi jauh lebih dasyhat dan mengerikan daripada adzab di dunia, sebagaimana kabar yang kita dapatkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah berikut ini:

-Orang-orang yang dzalim tidak mempunyai penolong, teman erat dan pemberi syafaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dan tidak ada penolong bagi orangorang dzalim." (Ali Imran)

"Orang-orang dzalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya." (Ghafir: 18)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan beroleh syafaatku yaitu pemimpin yang sangat dzalim lagi lalim dan setiap orang yang ghuluw yang keluar/menyimpang dari agama." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 8/337/8079, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 470)

- Bangkrutnya orang-orang dzalim pada hari ditampakkannya amalan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang melarat itu?” Mereka menjawab: “Orang yang melarat di kalangan kami ialah orang yang tidak mempunyai dirham dan tidak pula mempunyai harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang melarat dari umatku ialah orang yang tiba pada hari simpulan zaman dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga tiba dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya kemudian ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya , maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia mempunyai amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun jika ia tidak mempunyai kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya kemudian dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 2449)

Dalam dua hadits di atas terdapat keterangan bahwa perbuatan dzalim pada hari simpulan zaman nanti akan mengantarkan pada kebangkrutan.

- Penyesalan orang yang dzalim pada hari kiamat.
Ketika orang yang dzalim ini melihat bukti bahaya Tuhan Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, ia pun meratapi dirinya namun pada hari itu penyesalan tak lagi berguna.

Allah SWT berfirman:“Kalau seandainya setiap diri yang dzalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, pasti beliau akan menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya saat mereka telah menyaksikan adzab itu. Dan telah diberikan keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya.” (Yunus: 54)

- Ancaman masuk neraka bagi orang yang berbuat dzalim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang mengambil hak seorang muslim maka sungguh Tuhan telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan nirwana baginya". Ada seseorang yang bertanya: "Walaupun itu sesuatu yang remeh/sedikit wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Walaupun cuma sepotong kayu arak." (HR. Muslim no. 351).

Abu Salamah (seorang tabi’in) mengabarkan bahwa pernah terjadi pertikaian antara dirinya dengan orang-orang dalam duduk kasus tanah, maka diceritakannya hal itu kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Aisyah pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Salamah, lebih baik engkau jauhi tanah tersebut, lantaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


"Siapa yang berbuat dzalim terhadap satu jengkal tanah maka akan ditimpakan/dipikulkan padanya tujuh lapis bumi." (HR. Al-Bukhari no. 2453 dan Muslim no. 4113)