Renungan Bagi Suami yang Tidak Mencintai dan Menyayangi Istrinya Lagi


Renungan Bagi Suami yang Tidak Mencintai dan Menyayangi Istrinya Lagi

Kisah ini diceritakan oleh Dr. Karim Asy Syadzili dalam buku karangannya : “Bulir-Bulir Cinta untuk Suami Istri Demi Terwujudnya Pernikahan yang Barakah”

Ada seorang suami yang mengeluh betapa beratnya duduk perkara rumah tangga mereka. Kasih sayang dan cintanya seakan hilang. Dirinya tidak menyayangi istrinya lagi.

“Aku sudah tak lagi menyayangi istriku,seakan-akan cintaku ditimpa penyakit kanker yang ganas. Menggerogoti sampai tak berbekas,” Kemudian Dr Karim memperhatikan diriku dengan raut wajah serius, namun wajahnya tetap tenang. Aku akan bercerita sedetail mungkin supaya mendapat solusi yang tepat.
Berikut kisahnya :

“Sebenarnya obatnya sangat sederhana”

“Sangat sederhana?” Rasa ingin tau membuatku tak sabar, “obat apakah itu, Dok?”

“Cintailah istrimu” Apa? Tidak salahkah saya mendengarnya?

“Aku tiba untuk mengadukan bahwa cintaku kepada istri telah hilang. Lalu engkau menyuruhku mencintainya? Lalu apa gunanya saya tiba kepadamu?” agak tinggi nadaku menanggapi kalimat dokter di hadapanku itu.

“Kalau begitu… cintailah istrimu”
Karena psikiater itu mengulangi lagi saran yang sama, seiring membaik kesabaranku, saya bertanya apa maksudnya.

“Wahai dokter, apa yang bahu-membahu engkau maksudkan? Bagaimana caranya saya dapat kembali menyayangi istriku?”

“Pak, apakah sebelumnya engkau pernah menyayangi istrimu?” tanyannya sambil tersenyum.

“Tentu saja. Dulu saya sangat mencintainya.”

“Apa yang kamu lakukan ketika itu semoga cintamu langgeng?”
“Aku biasa memberinya hadiah, mengajaknya makan malam ke rumah makan, mengajaknya jalan-jalan ke pantai…” Banyak hal yang memang kulakukan di awal-awal pernikahan, ketika cintaku menggelora dan segalanya indah di mata. Seakan dunia milik kami berdua.

“Nah, saya ingin kamu melaksanakan hal yang sama menyerupai itu selama satu bulan ini secara terus menerus”

Meskipun awalnya ragu dengan istilah “cintailah istrimu”, klarifikasi dokter dan sarannya itu menurutku masuk nalar juga. Tidak ada salahnya mencoba.

Sebulan kemudian, kami kembali bertemu. Dokter jiwa itu menyambutku sangat hangat. Agaknya ia dapat melihat perbedaan yang sangat signifikan dari wajah dan bahasa tubuhku.

“Jadi, bagaimana hasilnya?” pertanyaannya eksklusif to the point.

“Terima kasih, Dok. Ternyata saranmu benar-benar manjur. Hubungan rumah tanggaku berangsur-angsur membaik. Binar-binar cinta tampak di mata istriku. Dan anehnya, cintaku juga kembali menyerupai dulu. Dia mencintaiku dan saya pun mencintainya.”

“Cinta itu perlu pembiasaan,” kata dokter itu memberikan kesimpulan, “Tidak menyerupai film-film romantis yang hanya perlu janji-janji dan kata-kata manis.”
-------
Beberapa dari Anda kemungkinan mengalami hal yang sama menyerupai dongeng diatas. Dimana tidak menyayangi atau menyayangi istri Anda atau berkurang. Bagi Anda yang mengalami hal menyerupai itu tidak perlu ke psikiater cobalah untuk membangun ulang cinta dan kasih sayang Anda kepada Istri atas dasar Tuhan SWT. Insya Tuhan perlahan cinta dan kasih sayang akan tumbuh kembali.

Salinglah memberi hadiah, pasti kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad)

Rasulullah SAW begitu peduli kepada umatnya sampai Baginda Rasul memberikan pola bagaimana cara mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang melalui sebuah hadiah. Semoga bermanfaat bagi semua.